Audiensi Pusbisindo Bali ke Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali

Sumber dari: • @diskominfos_bali Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Cabang Bali Lakukan Audensi ke Diskominfos Bali Kamis (14/4), Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statisti

Dukung Kota Inklusif, Pemkot Denpasar Rancang Pelayanan Ramah Bahasa Isyarat bersama Pusbisindo Bali

Pemerintah kota Denpasar secara berkelanjutan terus mendukung terciptanya Kota Inklusif. Kali ini, turut dirancang Pelayanan Ramah Bahasa Isyarat. Hal tersebut terungkap saat Audiensi Ket

Partisipasi Indonesia di All Children Reading: A Grand Challenge for Development and the Global Book Alliance’s Begin With Books

Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO), sebagai bagian dari organisasi Tuli di Indonesia, yang berfokus pada pengajaran bahasa isyarat akan berpartisipasi dalam program All Children R

Kolaborasi Kelas Bahasa Isyarat dalam rangka Memeriahkan Hari Ulang Tahun Provinsi Jambi ke-65 Tahun

Dalam memperingati Hari Ulang Tahun Provinsi Jambi ke-65 tahun, pemerintah Provinsi Jambi mengadakan pameran dan bazar yang diselenggarakan selama empat hari mulai tanggal 6 hingga 9 Janua

Kolaborasi Kelas Bahasa Isyarat dengan Dinas Pendidikan Kab. Kubu Raya

Dinas Pendidikan Kab. Kubu Raya bersama Bupati Kubu Raya, H.Muda Mahendrawan bekerja sama dengan Pusbisindo Kalimantan Barat mengadakan pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) bagi 32

Perlu atau Tidak Belajar Bahasa Isyarat?

Halodoc, Jakarta - Komunikasi merupakan komponen yang amat penting dan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Namun sayangnya dalam beberapa kasus, tak semua orang bisa berkomunikasi den

Pelatihan CEFR oleh LRBI UI untuk Para Guru Tuli Pusbisindo

Pengajar Pusbisindo Mengikuti Pelatihan CEFR yang diselenggarakan oleh LRBI FIB UI  Pada bulan April hingga Mei yang lalu, para pengajar Pusbisindo berkesempatan untuk mengikuti Comm

Perayaan Ulang Tahun PUSBISINDO ke-12

Tahukah teman-teman, di bulan Februari ini terdapat salah satu hari terpenting bagi PUSBISINDO? Ya, ulang tahun PUSBISINDO yang jatuh di tanggal 28 Februari! Di tahun 2021, PUSBISINDO beru

Ketua Pusbisindo: SIBI Bukan Bahasa Isyarat

Liputan6.com, Jakarta Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Laura Lesmana Wijaya, M. A. menjelaskan bahwa sistem isyarat bahasa Indonesia (SIBI) bukanlah bahasa melainkan hanya

Melihat Pentingnya Bahasa Isyarat dalam Pencerdasan Orang Tuli

Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) merupakan alat komunikasi sebagian besar warga tuli Indonesia. Dengan adanya Bisindo, warga Tuli dapat memperoleh, mengumpulkan, maupun menyampaikan info

Temukan apa yang ingin kamu ketahui:

Audiensi Pusbisindo Bali ke Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali
14 April 2022 | sumber: Instagram @diskominfos_bali

Sumber dari: • @diskominfos_bali Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Cabang Bali Lakukan Audensi ke Diskominfos Bali Kamis (14/4), Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali menerima audensi dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Cabang Bali dalam rangka memperkenalkan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Cabang Bali yang bertujuan sebagai langkah awal mengembangkan Bahasa Isyarat di Bali, bertempat di Ruang Rapat Jepun Diskominfos Provinsi Bali. Diterima langsung oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali Gede Pramana dengan didampingi Sekretaris Dinas Yupi Wahyundari, dan Pranata Humas Ahli Muda pada Sub Koordinator Unit Substansi Layanan dan Pengelolaan Informasi Publik I Made Sudiarta. Gede Pramana menyambut baik dengan mengucapkan selamat datang untuk Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Cabang Bali dan berharap kedepannya akan ada inovasi baru buah dari kerjasama dengan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo). “Karena Keterbukaan Informasi Publik bukan hanya untuk masyarakat yang mampu mendengar saja tetapi bagi semua masyarakat termasuk masyarakat Disabilitas maka diperlukan Juru Bahasa Isyarat untuk memudahkan masyarakat Disabilitas memperoleh informasi,” ujar Gede Pramana. Selengkapnya di :https://diskominfos.baliprov.go.id/pusat-bahasa-isyarat-indonesia-pusbisindo-cabang-bali-lakukan-audensi-ke-diskominfos-bali/

Kolaborasi Kelas Bahasa Isyarat dalam rangka Memeriahkan Hari Ulang Tahun Provinsi Jambi ke-65 Tahun
06 December 2021 | sumber: Putri Fatimah Azzahra - Admin Pusbisindo Jambi

Kolaborasi Pusbisindo Jambi dengan Dinas Sosial, Kependudukan, dan Catatan Sipil (Dinsosdukcapil) Provinsi Jambi dalam Memeriahkan Hari Ulang Tahun Provinsi Jambi ke-65 Tahun Dalam memperingati Hari Ulang Tahun Provinsi Jambi ke-65 tahun, pemerintah Provinsi Jambi mengadakan pameran dan bazar yang diselenggarakan selama empat hari mulai tanggal 6 hingga 9 Januari 2022 yang lalu. Pameran ini diikuti oleh seluruh pemerintah kabupaten dan/atau kota di Provinsi Jambi serta seluruh UPD Pemerintah Provinsi Jambi. Dinsosdukcapil juga turut hadir dalam memeriahkan pameran dan bazar tersebut. Pameran oleh Dinsosdukcapil menampilkan beberapa karya dan kemampuan bakat dari komunitas disabilitas yang ada di Provinsi Jambi, seperti Pijat Shiatsu oleh komunitas Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), penampilan gitar oleh komunitas Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), penampilan lukisan oleh teman-teman Tuli dari Gerkatin Provinsi Jambi, dan penampilan hasil karya oleh Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Jambi. Selain itu, ada juga pelatihan bahasa isyarat yang diajarkan langsung oleh teman-teman Tuli dari Pusbisindo Jambi. Pelatihan bahasa isyarat oleh Pusbisindo Jambi menarik banyak sekali perhatian pengunjung pameran. Mulai dari anak-anak hingga dewasa terlihat sangat antusias dalam mempelajari bahasa isyarat dasar, seperti abjad dan perkenalan nama. Tak hanya itu, pelajaran bahasa isyarat ini juga menjadi langkah awal bagi masyarakat umum untuk lebih mengenal budaya Tuli dan mampu berkomunikasi bersama teman-teman Tuli. Sebagai penutup rangkaian acara Hari Ulang Tahun Provinsi Jambi ke-65 tahun ini diadakan penilaian untuk stand pameran dan bazar terbaik. Dinsosdukcapil yang bekerja sama dengan Pusbisindo Jambi berhasil meraih penghargaan sebagai Stand Terbaik 3 Kategori UPD Pemerintah Provinsi Jambi.

Pelatihan CEFR oleh LRBI UI untuk Para Guru Tuli Pusbisindo
10 August 2021 | sumber: Ditulis oleh Michelle Layanto

Pengajar Pusbisindo Mengikuti Pelatihan CEFR yang diselenggarakan oleh LRBI FIB UI  Pada bulan April hingga Mei yang lalu, para pengajar Pusbisindo berkesempatan untuk mengikuti Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) yang diselenggarakan oleh Laboratorium Riset Bahasa Isyarat, Fakultas Ilmu dan Budaya, Universitas Indonesia (LRBI FIB UI). Dikutip dari website English First, CEFR adalah “standar yang diakui secara internasional untuk menggambarkan kecakapan berbahasa” (https://www.efset.org/id/cefr/ , 9 Agustus 2021) atau dari situs Cambridge English “The Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) is an international standard for describing language ability” (https://www.cambridgeenglish.org/exams-and-tests/cefr/ , 9 Agustus 2021). Dengan kata lain, CEFR juga menggambarkan seberapa baik Anda berbicara dan memahami suatu bahasa, dan dalam pelatihan ini adalah tingkatan kemahiran kemampuan Bahasa Isyarat. Pelatihan diadakan sebanyak lima kali melalui zoom dan dibawakan oleh Profesor Christian Rathmann dan Thomas Geissler yang merupakan dosen senior Deaf Studies and Sign Interpreting dari Humboldt-Universität zu Berlin, Jerman. Selain peserta dari Indonesia, pelatihan ini juga diikuti oleh beberapa staf Tuli dari The Centre for Sign Linguistics and Deaf Studies, The Chinese University of Hong Kong (CUHK), Hong Kong. Karena itu dalam pelatihan antar tiga negara ini, LRBI memberikan akses penuh berupa Juru Bahasa Isyarat, serta audio dan teks Bahasa Inggris. Pengajar menggunakan International Sign kemudian dijurubahasakan ke dalam Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan Hong Kong Sign Language (HKSL). Pusbisindo mendorong seluruh pengajar untuk mengikuti pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan dan memajukan kemampuan dan kompetensi guru Bahasa Isyarat di Indonesia. Tidak hanya itu, pelatihan ini juga mendorong para pengajar untuk dapat lebih berinovasi dalam pengajaran, seperti memulai komunikasi dan membuka diskusi dan juga interaksi dengan para murid. Dengan begitu, kualitas hasil pengajaran dapat ditingkatkan dan mendorong semakin berkembangnya pengguna bahasa Isyarat di Indonesia. Para pengajar Pusbisindo sangat antusias dengan adanya pelatihan ini. Menurut Ibu Dhita Indriyanti, salah satu pengajar Pusbisindo Jawa Barat, CEFR sangat bagus dan penting untuk para guru, karena guru-guru dapat berinovasi dalam cara mengajar dan mendapat ilmu yang baru. Para pengajar pun mempunyai harapan besar dengan mengikuti pelatihan ini, Pak Julyanto Winata, pengajar Pusbisindo Jakarta mengatakan, “Semoga semua guru dapat mengambil kesempatan untuk menimba ilmu-ilmu baru lebih mendalam, supaya prestasi guru-guru berkembang lebih maju.”  

Telah lahir Cabang Pusbisindo yang baru - Pusbisindo Bali
26 April 2021 | sumber: Penulis: Michelle Layanto

Teman-teman pasti sudah mengetahui tentang perayaan ulang tahun Pusbisindo yang dirayakan tanggal 28 Februari yang lalu? Di tengah-tengah perayaan tersebut terdapat pengumuman mengenai peresmian dan perkenalan cabang Pusbisindo yang baru, yaitu Pusbisindo Bali! Diperkenalkan sebagai cabang ke enam setelah DKI Jakarta, D.I Yogyakarta, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, Pusbisindo Bali berpusat di Kota Denpasar serta merupakan cabang Pusbisindo pertama yang berada diluar pulau Jawa. Bali merupakan salah satu daerah yang kaya akan variasi bahasa daerah alamiah, begitupun dengan bahasa isyarat. Bahasa Isyarat Bali banyak dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan masyarakat khas Bali. Pusbisindo Bali didirikan dengan persetujuan antara Pusbisindo Pusat, Komunitas BDC (Bali Deaf Community) serta DPD GERKATIN Bali (Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia). Keputusan pendirian ini didasari oleh tingginya permintaan untuk mempelajari Bahasa Isyarat dan masih sedikitnya sumber daya Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang tersedia di Bali. Tim kepengurusan Pusbisindo Bali dijalankan oleh tiga orang, yang terdiri dari Ni Komang Ayu Diantari sebagai koordinator yang bertugas sebagai mengatur kelas serta melapor kepada pengurus pusat, Yuliana sebagai bendahara yang mengatur keuangan dan Gede Ade Putra Wirawan sebagai hubungan masyarakat (humas) yang bertugas mempromosikan kelas serta menjadi penghubung tim pengurus dengan pihak eksternal. Selain pengurus, terdapat guru-guru yang berpengalaman dalam mengajar Bahasa Isyarat Bali, terdiri dari 8 orang guru, mereka adalah Ferdiyanto Turut, I Made Eka Jaya, I Putu Jaya Utama, Kadek Deby Sintya Dewi, I Kadek Swanjaya, Ketut Yunda Manik dan Nizam Analinata Nasution. Kelas reguler perdana Pusbisindo Bali akan dimulai pada akhir bulan April melalui ZOOM dikarenakan belum berakhirnya pandemi virus corona. Pendaftarannya akan dibuka sejak pertengahan April dan diumumkan melalui instagram Pusbisindo. Ayo teman-teman di Bali, follow Instagram Pusbisindo dan pasang notifikasimu agar tidak tertinggal informasi pembukaan pendaftaran kelas reguler perdana Pusbisindo Bali! Semoga dengan berdirinya Pusbisindo Bali dapat menjadi awal bagi Pusbisindo untuk membuka cabang-cabang lain di berbagai daerah terutama daerah luar pulau Jawa.

Perayaan Ulang Tahun PUSBISINDO ke-12
28 February 2021 | sumber: Ditulis oleh Michelle Layanto. Dokumentasi Pribadi

Tahukah teman-teman, di bulan Februari ini terdapat salah satu hari terpenting bagi PUSBISINDO? Ya, ulang tahun PUSBISINDO yang jatuh di tanggal 28 Februari! Di tahun 2021, PUSBISINDO berusia 12 tahun. Sekalipun di tengah pandemi, tentunya semangat merayakan hari jadi PUSBISINDO tidak boleh ikut luntur. Karena itu, tahun ini PUSBISINDO merayakan ulang tahun dengan format offline sekaligus online! Sesuai dengan peraturan PPKM mengenai jumlah orang untuk berkumpul, PUSBISINDO memutuskan mengadakan secara offline di MULA Kota Tua, dimana terdapat ruang meeting berkapasitas 100 orang, dengan maksimal yang hadir offline sebanyak 20 orang. Bagi PUSBISINDO Cabang serta yang tidak memenuhi standar kesehatan, mereka dapat hadir melalui ZOOM yang akan terhubung langsung dengan acara offline di MULA. Acara dibuka dengan kata sambutan dari Pak Bambang Prasetyo selaku ketua GERKATIN Pusat. Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman peresmian PUSBISINDO Bali sebagai cabang ke-6 dan perkenalan pengurus serta guru-guru dari PUSBISINDO Bali dengan seluruh anggota PUSBISINDO. Dengan demikian, kedepannya kelas BISINDO juga akan segera dibuka di Bali! Dilanjutkan dengan puncak acara ulang tahun PUSBISINDO yaitu Penghargaan Guru Terbaik 2020. Bila tahun lalu Penghargaan Guru Terbaik hanya diberikan bagi guru dari Jakarta, tahun ini Penghargaan Guru Terbaik diberikan kepada 3 cabang yang telah berumur lebih dari satu tahun, yaitu Jakarta, Banten dan Yogyakarta. Sebelumnya, nominasi 3 guru terbaik setiap cabang sudah diumumkan terlebih dahulu melalui Instagram PUSBISINDO. Setelah mengakumulasi perhitungan penilaian dari murid-murid serta pengurus, pemenang Guru Terbaik Banten adalah Wilma Redjeki, pemenang Guru Terbaik Yogyakarta adalah Riski Purna Adi, dan Pemenang Guru Terbaik Jakarta adalah Myrna Mustika Sari. Menjelang berakhirnya acara, semua peserta diajak bersenang-senang dengan bermain Kahoot! yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai PUSBISINDO. Selepas bermain, terdapat kejutan dari Ketua PUSBISINDO berupa hadiah apresiasi kepada dua orang pengurus PUSBISINDO Pusat yang sudah membantu PUSBISINDO selama 3 tahun sejak pergantian pengurus saat PUSBISINDO masih hanya berada di Jakarta. Acara ditutup dengan doa dan foto bersama melalui ZOOM. Acara berlangsung lancar dan meriah meski banyak rintangan dari pandemi dan terpisahkan oleh jarak. PUSBISINDO mengucapkan banyak terima kasih kepada MULA Kota Tua serta Sunyi Coffee sebagai sponsor yang mendukung terlaksananya acara ulang tahun ini. Sampai bertemu lagi tahun depan di ulang tahun PUSBISINDO ke-13!

Ketua Pusbisindo: SIBI Bukan Bahasa Isyarat
26 October 2020 | sumber: Sumber: Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Laura Lesmana Wijaya, M. A. menjelaskan bahwa sistem isyarat bahasa Indonesia (SIBI) bukanlah bahasa melainkan hanya sistem. Sebagai seorang penyandang tuli yang lahir dari keluarga tuli yang ibu dan ayahnya memiliki kondisi sama, ia sehari-hari menggunakan bahasa isyarat yang natural yaitu bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) dan tidak memiliki pengalaman menggunakan sistem isyarat bahasa Indonesia (SIBI). “Yang saya lihat SIBI ini strukturnya mengikuti bahasa lisan atau bahasa Indonesia yang hanya digunakan dalam konteks pendidikan yang diajarkan pada anak-anak agar mengetahui tata bahasa Indonesia dengan lebih baik,” ujar Laura dalam webinar Konekin ditulis pada Jumat (23/10/2020). Menurutnya, jika berbicara tentang bahasa maka kaitannya erat dengan budaya. Misal, dalam bahasa isyarat ada nama panggil dan ini berkaitan dengan budaya tuli. “Dalam kajian Bisindo kuat sekali kaitannya dengan kajian identitas tuli dan nilai-nilai ketulian yang sangat kuat dan itu tercakup di dalam ranah ketulian yang di dalamnya ada Bisindo. Kalau kita bicara tentang pendidikan kita lihat bahwa ada sebuah hipotesis dari Safir Whorf yang menyampaikan bahwa bahasa apapun segala sesuatunya berkaitan dengan budaya.” Kembali ke nama panggil, nama tersebut dibuat dari kekhasan orang tuli dalam bentuk isyarat. Mengingat para penyandang tuli tidak memanggil rekannya dengan suara. Nama panggil yang digunakan di antara tuli menjadi salah satu bukti kekhasan budaya tuli. Transisi Budaya dan BahasaLaura menambahkan, jika berbicara tentang bahasa isyarat maka aka nada transisi budaya dan bahasa. Menurut 16 desain fitur bahasa Hockett (1960), salah satu fitur bahasa adalah penyebaran budaya. Maksudnya, budaya dan bahasa diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya yang berkaitan dengan pemerolehan bahasa anak. “Di keluarga saya, kami semua tuli dan menggunakan bahasa isyarat, jadi bahasa isyarat yang digunakan orangtua saya itu diturunkan ke saya dan nanti jika saya punya keturunan maka akan diturunkan kembali ke keturunan saya.” “Jadi ada transisi, kalau untuk SIBI, saya tidak tahu karena hanya digunakan di ranah pendidikan atau sekolah saja. Sekali lagi saya melihat ini adalah sistem isyarat bukan bahasa. Jadi kita perlu melihat perbedaan mendasar antara Bisindo dan SIBI ini,” pungkasnya.Sumber: Liputan6.com

Partisipasi Indonesia di All Children Reading: A Grand Challenge for Development and the Global Book Alliance’s Begin With Books
16 September 2020 | sumber: Michelle Layanto - Pusbisindo

Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO), sebagai bagian dari organisasi Tuli di Indonesia, yang berfokus pada pengajaran bahasa isyarat akan berpartisipasi dalam program All Children Reading: A Grand Challenge for Development and the Global Book Alliance’s Begin With Books yang diadakan oleh Rochester Institute of Technology’s National Technical Institute for the Deaf (RIT/NTID). Program tersebut memungkinkan para pemenang untuk bersama-sama menyusun ribuan buku yang disajikan dalam tujuh bahasa yang tidak terlayani dan sembilan bahasa isyarat untuk didistribusikan ke berbagai daerah di dunia tempat anak-anak yang bersekolah di taman kanak-kanak hanya memiliki sedikit buku atau tidak sama sekali.Rochester Institute of Technology’s National Technical Institute for the Deaf (RIT/NTID) merupakan satu dari empat inovator internasional yang terpilih untuk membuat buku anak-anak berkualitas tinggi yang dapat diakses dalam bahasa yang digunakan dan dipahami oleh anak-anak. RIT/NTID akan memproduksi 200 buku dalam bahasa isyarat secara berjenjang dalam enam bahasa isyarat, yaitu Filipina, Indonesia, Somalia, Papua Nugini, Fiji, dan Samoa dengan jumlah keseluruhan sebanyak 1.200 buku. Tujuh puluh persen buku-buku tersebut akan disediakan secara gratis dan terbuka melalui perpustakaan. Penyusunan buku ini dilakukan dengan cara bekerja sama dengan organisasi disabilitas setempat. Melalui kerja sama ini, akan terdapat sejumlah cerita baru sebanyak 30% yang berisikan tentang pengalaman Tuli atau karakter Tuli. RIT/NTID dan negara-negara mitra juga berencana untuk mengadaptasi atau menyusun 40 buku dengan konten sains (science), teknologi (technology), teknik (engineering), dan matematika (math) yang biasa dikenal dengan istilah STEM.PUSBISINDO mendorong partisipasi Tuli Indonesia untuk berperan serta dalam penyusunan buku anak-anak dalam bahasa isyarat yang selama ini belum ada di negara ini. Dengan disusunnya buku-buku tersebut, diharapkan dapat mendukung pembelajaran bagi anak-anak Tuli usia sekolah sehingga mereka dapat mengakses pembelajaran secara efektif.Selain itu, cerita-cerita dari berbagai negara dengan karakter utama seorang Tuli diharapkan membuat dunia menjadi lebih memahami tentang ketulian sehingga lingkungan menjadi inklusif dan setiap pihak menjadi saling terhubung.Ribuan anak Tuli di Indonesia tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit akses atas buku-buku dalam bahasa yang mereka gunakan dan pahami. Hal ini berdampak pada pemenuhan hak dasar mereka sebagai manusia untuk melek huruf dan memperoleh pendidikan. Keterlibatan dalam program ini diharapkan dapat menjawab akan kebutuhan literasi dan pendidikan anak-anak Tuli melalui ketersediaan buku-buku yang menarik dan mudah diakses. Dengan demikian, anak-anak Tuli menjadi berdaya dan mendapatkan dukungan dalam perjalanan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan meraih keberhasilan di masa depan, baik di sekolah, di ranah pekerjaan, di ranah kesehatan, dan di tengah masyarakat.

Perlu atau Tidak Belajar Bahasa Isyarat?
19 March 2019 | sumber: https://www.halodoc.com/artikel/perlu-atau-tidak-belajar-bahasa-isyarat

Halodoc, Jakarta - Komunikasi merupakan komponen yang amat penting dan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Namun sayangnya dalam beberapa kasus, tak semua orang bisa berkomunikasi dengan lancar melalui mulut, atau bahkan tak bisa sama sekali. Hal ini, misalnya disebabkan karena dirinya mengidap tunarungu atau tunawicara. Meski begitu, ada bahasa isyarat yang bisa digunakan untuk menerima dan menyampaikan pesan pada pengidap tunarungu dan tunawicara. Nah, berikut beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan saat menguasai bahasa isyarat. Membantu Orang Lain Saat kita bisa menguasai bahasa isyarat, kita pun bisa membantu penyandang tunarungu. Contoh kecilnya, ketika kita bertemu dengan penyandang tunarungu mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain yang tak mengerti bahasa isyarat. Nah, di sini kita bisa membantu mereka untuk menyampaikan pesan dengan kemampuan bahasa isyarat yang kita miliki. Tak cuma itu saja, dengan menguasai bahasa isyarat, kita juga bisa  menjadi relawan dan bergabung dengan komunikasi pegiat bahasa isyarat. Aktivitas ini amat bermanfaat untuk membantu penyandang tunarungu dan tunawicara yang sedang mengalami kesusahan, terutama saat terjadi bencana. Meningkatkan Kemampuan Balita dalam Berkomunikasi dan Membaca Bahasa isyarat merupakan bahasa asing yang bisa diajarkan ke anak-anak, terutama sebelum usia tiga tahun. Bahasa isyarat ini bisa memberikan beberapa manfaat pada Si Kecil. Para ilmuwan percaya kalau otak usia dini lebih memiliki ruang yang lebih “luas”, sehingga mudah untuk menyerap apapun, termasuk mempelajari bahasa. Ketika Si Kecil belajar bahasa isyarat, ini disinyalir bisa meningkatkan kemampuan membaca anak saat mulai belajar di taman kanan-kanan nanti. Dengan kata lain, mempelajari bahasa baru, seperti bahasa isyarat, bisa bermanfaat untuk kemampuan otak. Sebenarnya manfaat belajar bahasa isyarat sangat luas. Bahkan, jika kamu menekuninya dengan saksama dan juga “fasih” bahasa ini, kamu bisa menjadi penerjemah berita di televisi bagi para pemirsa penyandang tunarungu.   Menambah Teman dan Pengalaman Baru Menurut ahli di National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, 17 dari 1.000 orang di dunia bisa mengalami gangguan pendengar di masa mendatang. Riskonya akan makin meningkat bila berusia lebih dari 65 tahun. Yang perlu diketahui, setiap negara memiliki bahasa isyarat yang berbeda-beda. Misalnya, di Indonesia yang dinamakan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia), di Amerika Serikat bernama ASL (American Sign Language), dan di Inggris dikenal dengan BSL (British Sign Language). Ingat, belajar bahasa isyarat bisa menambah pengalaman baru yang cukup menyenangkan, tak ada ubahnya dengan mempelajari hal-hal lainnya. Tak hanya itu, dengan menguasai bahasa ini kita juga bisa memperluas pertemanan. Contoh kecilnya, kita bisa saling bertukar pesan atau cerita dengan orang-orang yang mengidap tunawicara atau tunarungu. Menariknya lagi, dengan mempelajari bahasa ini dan berbicara dengan mereka (pengidap tunarungu atau tunawicara) akan membuka pemikiran sekaligus menyadarkan kita, kalau masih banyak hal di dunia ini yang belum kita ketahui secara bijaksana. Berbicara dengan mereka akan membuka pemikiran dan sekaligus menyadarkan kamu bahwa masih banyak hal di dunia ini yang belum diketahui secara bijaksana.

Artikel Populer
TOP
Info & Pertanyaan
HUBUNGI KAMI